Welcome to my blog

The next things that you will read are some thoughts or analysis that just comes out of my mind based on what I read and experience. So enjoy... If you have any comment, please send me an email to anto.hw2008@gmail.com.

Cheers

AH

Wednesday, June 13, 2012

Bagaimana Cara Menghitung Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) / PLR

SBDK (Suku Bunga Dasar Kredit) atau juga dikenal sebagai PLR (Prime Lending Rate) pada dasarnya adalah perhitungan komponen biaya kredit sebelum memperhitungkan premi risiko (Risk Premium).

BI membagi SBDK ke dalam 4 kategori kredit yaitu Kredit Corporate, Kredit Retail, dan Kredit Konsumsi yang terbagi atas Kredit KPR, dan Non KPR.

SBDK terdiri dari 3 komponen dasar yaitu:
1. Cost of Funds
2. Overhead Cost
3. Margin

1. Cost of Funds
Cost of Funds adalah keseluruhan biaya pendanaan untuk mendanai sebuah kredit. Pada umumnya pendanaan kredit berasal dari gabungan customer deposits yang merupakan kombinasi dari Giro (Current Account), Tabungan (Saving Account) dan Time Deposits. Giro dan Tabungan adalah sumber biaya termurah pada sebuah bank karena tingkat bunga nya sangat rendah, untuk Rupiah sekitar 0%-2%. Sedangkan Time Deposit  adalah biaya mahal untuk pendanaan sebuah kredit. Time Deposit Rupiah yang di-cover LPS per May'12 adalah 5.5% walaupun pada pelaksanaannya ada special rate yang ditawarkan beberapa bank dengan rate di atas 5.5%.
Ilustrasi biaya customer deposits dengan asumsi rate Giro 1%, Tabungan 2% dan Time Deposit 6% dengan komposisi Giro:Tabungan:Time Deposit 30:20:50 adalah sebagai berikut:

                                     Rate               Weighting
Giro                               1%                    30%
Tabungan                       2%                    20% 
Time Deposit                  6%                    50%
Blended cost                  3.7%

Dari contoh di atas blended cost untuk customer deposits yang terdiri dari Giro, Tabungan dan Time Deposit adalah 3.7%. Semakin besar porsi Time Deposit yang dimiliki bank, semakin tinggi blended cost yang dihasilkan dan berakibat pada makin tingginya SBDK.

GWM
On top of that, ada pula biaya tambahan yang harus dikeluarkan bank yang berkaitan dengan regulator, yaitu biaya Giro Wajib Minimum (GWM) dan fees untuk proteksi deposit kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
GWM Rupiah sampai dengan bulan May'12 adalah 8% dari seluruh total customer deposit Rupiah(walaupun ada tambahan apabila LDR jatuh di bawah 78% dan secondary reserve, but just make it simple though) dan biaya dana dari penempatan GWM adalah :

%GWM x Market Rate (misal interbank/BI Term Deposit/JIBOR) = 8% x 4% = 0.32%

LPS
Fees LPS dari total customer deposit = 0.2%

Dengan approach di atas total Cost of Funds :
Blended cost customer deposit = 3.7%
Biaya GWM                            = 0.32%
LPS                                         = 0.2%
Total cost of funds                   = 4.22%

Perhitungan ini adalah contoh paling simple untuk menghitung cost of funds. Untuk perhitungan yang lebih complex, perhitungan di atas dapat diganti dengan metode total Transfer Pricing untuk assets + GWM + LPS tergantung dari approach yang diambil oleh bank.

2. Overhead Cost
Overhead Cost bank pada umumnya adalah biaya lending yang umumnya terdiri dari staff cost, marketing, rental, training, depreciation etc. Pendekatan menghitung Overhead cost sehubungan dengan SBDK adalah Total biaya overhead dibagi dengan Total balance Kredit Rupiah.

Misalkan total biaya Overhead adalah 20 Milyar dan total balance Kredit adalah 1 Triliun.

Biaya Overhead = 20M/1T = 2%

3. Margin
Margin adalah keuntungan yang ingin diambil oleh bank sehubungan dengan kegiatan lending sebelum memperhitungkan Risk Premium. Sebagai contoh bank mengambil margin sebesar 2%.

Dari simulasi di atas dengan approach yang disederhanakan, total SBDK adalah:

Cost Of Funds             : 4.22%
Overhead                     : 2.0%
Margin                         : 2.0%
Total SBDK                : 8.22%

Perlu ditekankan bahwa approach yang digunakan untuk tiap bank dapat ber beda-beda. Selama approach nya make sense, kita dapat menggunakan nya untuk menghitung SBDK karena BI tidak mengatur secara exact bagaimana cara menghitung Cost of Funds ataupun Overhead.

Setelah SBDK didapatkan, kita dapat menghitung Lending Rate.
Lending Rate atau suku bunga yang ditawarkan kepada konsumen adalah SBDK + Risk Premium.

Risk Premium adalah premi yang diperhitungkan bank atas berapa % kira-kira risiko kredit atau berapa % kira-kira default customer dari suatu portfolio kredit.
Misalkan Risk Premium adalah 1.5%

Total lending rate yang harus dibayar debitor adalah 8.22% + 1.5% = 9.72%

Angka lending rate adalah besaran bunga yang harus dibayarkan oleh konsumen untuk sebuah kredit. Besar kecilnya lending rate bergantung pada komponen customer deposits, tingkat efisiensi Overhead, besaran margin yang ingin diambil dan Risk Premium yang dianggap mencukupi untuk menutupi risiko kredit.

Semoga bermanfaat.

Cheers
AH

2 comments:

  1. Saya punya pinjaman KPR BTN sejak tahun 2010
    Rate pertama 10.75% dengan sistem annuitas; setelah setahun dinaikkan menjadi 12.5% tanpa pemberitahuan, padahal SBDK KPR BTN saat ini kisarannya adalah 10.45%. Apakah kita bisa minta keringanan? Selama ini cicilan selalu dilakukan tepat waktu.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih banyak Pak Anto, saya terbantu dalam penyesuaian suku bunga kredit lembaga keuangan micro kami terhadap pasar saat ini setelah membaca tulisan bapak.
    Salam dan Hormat saya!!

    ReplyDelete